Menulislah

Selasa, 06 Maret 2018

Cahaya Senja Eps 01

"Bang ... Bang ... Woyyyyyy!!"
"Eh, i ... Iya. Ada apaan?", seketika aku tergagap
"Kebiasaan deh si Abang, pagi-pagi ngelamun aja. Minum teh anget dulu sana", ucapnya memberondong di pagi sejuk yang mendadak runyam
"Hus... Hus... Bisa nggak sih kalo ngomong tuh mukanya dijauhin dikit", aku sedikit mendorong tubuhnya menjauh
"Hahaha.... Udah sono bikin dulu. Liat tuh kerjaan Abang udah numpuk", katanya seraya berjalan perlahan menuju lift
"Huft ... Kenapa sih dia harus ganggu pagi ku yang tenang ini"

Aku berjalan menuju pantry untuk membuat secangkir teh hangat. Yap, itulah yang aku lakukan tiap pagi. Rasanya tak lengkap mengawali hari tanpa teh hangat, seperti makan kacang tapi tidak minum, seret bro!!

Kantor ini masih nampak sepi. Entah kemana karyawan yang lain. Padahal matahari sudah cukup tinggi dan lalu lintas di bawah sana mulai merayap. Tentu dari lantai 20 gedung ini dapat terlihat bagaimana padatnya ibu kota. Namun ada satu hal yang selalu aku rindukan. Cahaya di saat senja yang langsung menerobos kaca-kaca gedung dan membiaskan warna oranye yang menyejukkan mata.

Ruangan di lantai ini cukup luas. Terlihat cukup untuk 6 bagian yang masing-masing terdiri dari 5 meja kerja dan dipisahkan dengan papan sekat. Disinilah aku, bagian Design yang memiliki space ruang lebih besar. Karena hanya berisi 3 orang yang selalu terlihat berantakan, semrawut, tak beraturan, pokoknya segala kelakuan tak baik menempel pada kami bertiga.

Lihat saja mejaku. Satu kata yang mampu terucap adalah

"Amazing"

Bagaimana tidak, tumpukan dokumen di meja, hasil desain berserakan sampai di kursi dan lantai, kertas penuh coretan menempel di meja, komputer, papan sekat, dan ... Ah sudahlah, aku malu menjelaskannya lagi.

"Woy bro...."
"Ajegile ... Ngagetin aje", jawabku sesaat setelah seorang kawan meremas bahuku
"Lagian elu, dari tadi dipanggil bos malah ga nyaut", jawabnya sambil menunjuk menggunakan dagu
"Eh, Pak Bos", seruku sambil tersenyum melihat bos melotot. Sepertia beliau marah hebat
"kagak usah cengar cengir lu. Buruan ke ruangan gua", seru bos sambil berlalu ke ruangannya
" Siap Bos", jawabku tegas sambil memberikan hormat kepada beliau
"Lebay lu bro", tiba-tiba kawan meja sebelah yang agak aneh ini mendorongku
"Biasanya elu udah bikin teh anget, bro. Kan tiap pagi diingetin sama yayang Nia", sambungnya sambil tertawa dan menaik turunkan alisnya
"Eh ...",

Bener juga. Perasaan tadi lagi jalan ke pantry, kenapa ini masih duduk aja. Aduh, kayaknya pesona Nia mengalihkan duniaku.

Yap, gadis yang menyapaku tadi pagi adalah Nia. Gadis keturunan sunda yang memiliki kulit yang tak bisa dibilang putih itu layak disebut hitam manis. Dipermanis dengan hidung yang hmm... Sebenarnya bukan pesek, tapi terlalu imut kalau ingin dikatakan mancung. Mata kecil, bibir mungil, dan lesung pipit di sebelah kanan. Tak lupa rambut yang selalu tertutupi oleh hijab yang sederhana namun anggun.

Kelihatannya sih nothing special, but...
Dia adalah gadis yang periang dan selalu datang tepat setelah aku duduk di meja yang ah sudahlah ini.

Satu hal yang selalu dilakukan, ia akan menyapaku lalu mengambil berkas dan kembali menuju lift. Tentu karena dia adalah tim marketing handal yang tiap hari turun ke lapangan dan akan kembali saat senja menyapa.

Oke cukup, jangan terus melamun. Saatnya bikin teh hangat. Sebentar, sepertinya ada yang terlupakan. Apa ya?

"Diiiiii...... Elu mau gua pecat??", suara menggelegar itu

Astaga, Pak Bos...

"I'm coming Boss", seketika aku berlari menuju ruangannya di sudut sana

Bersambung...

Jumat, 23 Februari 2018

Konsisten Menulis

2 tahun yang lalu saya mengenal Bang Syaiha melalui media sosial Facebook. Tulisan beliau sangat menginspirasi dan membangkitkan semangat menulis yang sudah lama terkubur.

Saat beliau mengumumkan hendak membuat sebuah komunitas menulis, secara reflek saya langsung mendaftar dan masuk kedalam sebuah keluarga bernama One Day One Post (ODOP). Tahukah Anda, di keluarga baru ini saya benar-benar merasa malu. Mengapa? Yah, karena saya hanya berbekal keinginan untuk terus menulis tanpa keilmuan bagaimana menulis yang baik.

Di keluarga ini saya dikejutkan dengan fenomena luar biasa. Dalam 1 hari grup WA berisi chat ratusan sampai ribuan. Waw... Apa-apaan ini? Ramai sekali. Awalnya saya merasa mereka terlalu "lebay" sampai chat puluhan kali, tapi rasanya lambat laun saya menikmati.

"Tulis apapun di blog selama 2 minggu", begitu kata Bang Syaiha yang terngiang di benak saya.

Ada 2 tugas yang langsung terbayang di otak saya, yaitu membuat blog dan menulis tiap hari selama 2 minggu.

Tugas pertama saya rasa selesai, karena saat sekolah dulu saya pernah membuat blog meskipun sangat berdebu dan kotor. Kini tugas kedua, apa yang harus saya tulis?

" Apapun. Bisa keseharian, curhat, kesenangan, apapun yang terbersit di pikiran, maka tulislah", kata Bang Syaiha

Berpusing ria, bingung, mentok, sampai muntah-muntah(maaf ini lebay) saya berusaha memenuhi tantangan. Alhamdulillah selesai meski tertatih-tatih.

Waktu bergulir seiring tantangan yang silih berganti. Seleksi alam mulai berlaku. Satu persatu anggota keluarga meninggalkan rumah. Rasa sedih bergelora hebat, ketika kami sudah dekat namun harus terpisah oleh keadaan. Itulah yang terjadi. Tak perlu disesali, karena perjalanan harus dilanjutkan.

Kini, kami menjadi keluarga yang lebih besar dengan hadirnya keluarga Batch 5. Semakin banyak anggota keluarga, semakin ramai, berwarna, beraneka ragam.

Disini saya. Berusaha bertahan dalam keluarga dengan terpaan badai yang tak biasa. Ini harus dipertahankan. Karena semangat akan terus terbakar saat bersama keluarga.

Tetap semangat kawan.

Selasa, 20 Februari 2018

Dimana Jodohku?

Kemarin

"Pak, Yanti mau nikah loh. Udah dapet undangannya?" kata yusuf, salah satu alumni di tempat saya bekerja.
"Wah ... Belum tuh. Emang kapan?" jawab saya.
"Minggu depan Pak tanggal 25", jawabnya
"Wah ... Pelanggaran nih. Masa seminggu lagi belum disebar undangannya", jawab saya sedikit geram.
" Mungkin besok baru dikirim pa. Trus Bapak kapan? Hehe...", sambungnya.
"No comment. Wkwkwk", jawab saya dengan tawa
**********

Pagi ini

" Wih ... Pagi-pagi udah ada undangan aja. Dari siapa tuh?", tanya saya pada seorang staf
"Dari Yanti Pak. Wah ... Pak Sae diduluin sama alumni. Hehehe...", jawabnya dengan tawa yang terdengar sangat bahagia
**********

Jodoh,
Sebuah kata yang cukup menarik untuk dibahas. Karena ia akan menuju ke hati, yakni rasa cinta.

Dalam sebuah tulisan di kaskus, seseorang menulis bahwa Jodoh itu Ada di Sekitar Kita. Benarkah demikian? Saya pun tak tahu.

Ada pula yang menyebutkan bahwa jodoh itu adalah seseorang yang tak pernah terbayangkan dalam kehidupan kita, bahkan tak masuk dalam kriteria. Tapi mengapa bisa bersamanya? Entahlah.

Terlepas benar tidaknya teori tersebut, sang penulis sudah membuktikannya sendiri.

Dalam tulisannya disebutkan bahwa yang kini menjadi istrinya adalah anak buah di kelasnya dahulu saat ia menjadi ketua kelas X. Dan jodohnya adalah sahabat baik mantan pacarnya yang saat itu bukanlah kriteria dan bukan incaran sang penulis. Namun mengapa mereka bisa menikah? Sekali lagi, entahlah.

Itulah rahasia dari sebuah kata JODOH. Karena memang Maut, Rezeki, dan Jodoh sudah diatur oleh Allah SWT. Tak ada yang tahu kapan maut menjemput, dimana rezeki mengalir, dan siapa jodoh kita. Maka yang harus dilakukan adalah menpersiapkan diri. Untuk apa? Tentu untuk maut yang segera tiba, rezeki yang akan diberikan, dan jodoh yang akan dihadirkan.

Lalu, dimanakah jodohku sekarang?

Entahlah,

Siapa dia?
Dimana dia?
Dimana asalnya?
Apa yang dia sukai?

Masih menjadi misteri

Misteri akan terpecahkan jika sudah tiba saatnya. Persiapkan diri sampai Allah membuka tabir rahasia-Nya. Sehingga saat waktunya telah tiba, kita sudah siap menghadapinya.

Demikian,

Selasa, 02 Januari 2018

Awal Tahun

Tahun telah berganti
Usia makin bertambah
Sedangkan jatah hidup kian berkurang

Lalu apa yang sudah direncanakan dalam menjalani tahun yang baru?

Kang Rendy Saputra, founder Inspira mengibaratkan kehidupan layaknya membuat sebuah busana. Bagaimana membentuk pola, melakukan cutting kain, menjahit dan membentuk kain menjadi busana yang diinginkan.

Begitulah dalam menjalani hidup. Kita perlu membuat rencana hal-hal apa saja yang ingin dicapai. Kemudian proses selanjutnya merupakan action. Ketika action tidak sesuai dengan rencana, maka hasilnya tidak akan sempurna. Layaknya melakukan cutting kain yang tidak mengikuti pola. Maka hasilnya tidak akan sesuai dengan pola dan kain sisa tidak dapat digunakan.

Bapak Hermawan G S, direktur PT Transformasi Indonesia mengungkapkan bahwa hidup itu layaknya berlayar menggunakan sebuah kapal. Dimana terkadang menghadapi laut yang tenang, laut yang bergelombang lembut dengan riak-riak kecil, dan laut dengan gelombang badai besar.

Tentunya kehidupan tidak selamanya baik-baik saja. Pasti akan ada saatnya timbul gelombang ujian yang mungkin tak pernah terbayangkan. Namun itulah yang harus dihadapi.

Lalu, apa makna kehidupan bagi Anda?

Kamis, 21 Desember 2017

Anda Sungguh Luar Biasa

"Teman-teman tau harta karun paling berharta di zaman ini?", tanya seorang trainer pada sebuah kesempatan
"Harta karun berharga itu terdapat di kuburan", lanjutnya

DEG....
Hati ini terhenyak. Mana mungkin ada harta karun di kuburan. Sebuah tempat peristirahatan terakhir manusia yang dianggap menyeramkan, menakutkan, dan harus dijauhi.

"Tahukah teman-teman, dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa manusia menggunakan otak selama hidupnya tak lebih dari dua persen kemampuan otak", lanjutnya lagi
"Jika otak einstein dan peneliti lain kita teliti bahwa ternyata baru dua persen bagian otaknya. Dan pasti banyak ide-ide gila di dalam otaknya"

Kembali diri ini terhenyak. Betapa hebatnya karunia Illahi kepada hamba-Nya. Ia menganugerahi manusia dengan otak yang maha dahsyat kemampuannya. Bahkan dalam ilmu komputer, otak manusia itu setara dengan super komputer seluas lapangan sepak bola. Ia mampu merekam dan beroperasi dengan hebat. Maka dari otak itulah kemampuan manusia dan ide-ide hebat bermunculan.

"Jadilah orang-orang gila, dalam artian memiliki ide, pemikiran di atas orang-orang biasa. Terkadang tak masuk akal. Menembus batas-batas logika. Karena mereka yang gila akan menjadi sukses"

Hmm.... ya, memang saat melihat orang-orang sukses terkadang kita menemui hal-hal di luar logika, seperti

"Gaji saya harus 10 juta perbulan"
"Saya mampu menjual barang ini sampai ke Amerika"
"Saya harus menjual 1000 pcs dalam seminggu"
dan masih banyak lagi

Padahal yang terlihat oleh mata itu semua mustahil. Sangat mustahil. Namun mereka begitu optimis tanpa menghiraukan apa respon orang-orang di sekitarnya.

"Karena setiap manusia yang dilahirkan itu adalah makhluk yang luar biasa. Saya sangat tidak setuju dengan perkataan bahwa ada orang bodoh. Semua manusia diciptakan sempurna dan sangat cerdas. Hanya terkadang diri kita yang menutup diri, membatasi diri dari kecerdasan dan kesuksesan yang sebenarnya sudah terlihat di depan mata."

"Karena apa, terkadang manusia merasa mentok akibat mental block yang berbentuk dari didikan di masa kecil."

"Masa emas manusia adalah pada usia 0 sampai 12 tahun. Pada usia itu semua informasi yang diterima akan langsung diserap layaknya botol tanpa tutup. Ketika botol itu diisi air, maka air akan masuk seluruhnya. Maka dari itu, tanamkan nilai-nilai kebaikan sejak dini, jauhkan dari media yang membawa dampak buruk bagi anak."

"Jika ingin anaknya menjadi hafidz, tanamkan cinta Al-Qur'an dengan memperdengarkan murrotal Al-Qur'an, mengajak mengaji bersama dan lain-lain."

Kawan..
Percayalah bahwa Anda diciptakan dengan sempurna dan sungguh luar biasa.
Tanamkan dalam diri bahwa Anda BISA
Maka rasakan hal yang dahsyat dalam diri Anda
Karena berawal dari keyakinan mampu melejitkan performa dan kemampuan

Demikian

Sabtu, 07 Oktober 2017

Untuk apa Menulis?


"Ikatlah ilmu dengan tulisan"

Begitulah kata mutiara yang sering saya dengar.
Sebuah ilmu diterima melalui indra penglihatan dan pendengaran. Ketika ilmu itu ditulis maka daya ingat akan meningkat. Jika tulisan tersebut dibagikan (share), maka orang lain akan tahu dan menjadi sebuah kebaikan bagi penulisnya (kalau tulisannya positif ya).

Bagi seorang introvert, menulis merupakan salah satu cara mengungkapkan ekspresi, pikiran, ide, semangat, kegalauan, dan segala rasa. Karena terkadang sang introvert sedikit kesulitan untuk mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata, maka menulis adalah jalan yang tepat.

Sekarang yang menjadi masalah adalah:
Untuk apa saya menulis?

Apa agar terkenal?
Agar dikagumi si doi?
Agar dianggap calon mantu idalam oleh camer?
Ataukah ada alasan lain?

Bagi diri saya pribadi, menulis untuk menumpahkan pikiran. Namun ada bisikan lain.
"Ada yang like ga ya?"
"Ada yang komen ga ya?"

Dan saat tak ada yang like, komen terkadang semangat menulis itu sedikit memudar.
Inilah akibatnya jika menulis agar dikenal oleh orang lain. Maka perlu meluruskan niat.
Ada atau tidak yang like
Ada atau tidak yang komen
Tak menjadi masalah

Karena saya hanya ingin berbagi
Sebagai amalan jariyah bagi saya
Jika ada yang tercerahkan, Alhamdulillah
Jika tak ada yang baca, semoga menjadi pengingat diri saat alpa.

Lalu,
Apakah Anda senang menulis?
Untuk apa Anda menulis?

Kamis, 05 Oktober 2017

Nunggu apa lagi?

"Bentar-bentar, ini pudin kan?", tanya seorang ibu

Saya hanya membalas dengan senyuman.

Ketika seorang introvert bertemu dengan orangtua teman saat SD dulu, apa yang dilakukan?
Tersenyum, berpikir "ini siapa ya? Kayaknya kenal" (duh, gue banget ini. Hehehe)

"Kayaknya tinggal pudin nih yang belum. Nunggu apa lagi din?", tanya beliau lagi

Kembali saya hanya mampu melontarkan senyuman tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.

*********************

Beberapa hari yang lalu saya bertemu kawan dari kakak saya.
"Sekarang umur berapa kang?", tanya sang kawan
"25 kang",
"Targetnya kapan?"
"Targetnya udah kelewat kang. Hehehe...", hanya bisa tertawa. Tapi agak sesak ya (maaf ini lebay)
"Nunggu apalagi? Kan udah jelas ayatnya"

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS. An-Nur : 32)

"Saya dulu nikah umur 22. Sekarang umur 30 anak udah 3. Hehehe... Setiap lahir anak, muncul ujian. Dulu lahir anak pertama kena PHK. Sekarang lahir anak ketiga, pabriknya bangkrut. Hehe..."

Saya hanya mampu menyimak tanpa berkata-kata.

*********************


Berbicara mengenai jodoh dan pernikahan, memang sebaiknya disegerakan. Tapi bukan berarti terburu-buru.

Namun hal ini tidak kemudian menjadi dalih "ah nanti aja nikahnya, gausah buru-buru". Ini kurang tepat.

Ya, menikah butuh persiapan baik mental, fisik, finansial, dan lainnya. Namun hal ini jangan dijadikan pemberat dalam menjalankan sunnah Rasulullah SAW.

Persiapkan dengan matang. Jika sudah siap, maka segerakan.

Inipun nasehat bagi diri saya agar segera menggenapkan dien. Insya Allah